Warga Lahat Temukan Uang Logam Kuno

Bookmark and Share


Lahat, - Warga Desa Payo dan Tanjung Pinang, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat di Sumatera Selatan, Kamis, menemukan puluhan keping uang logam yang diperkirakan berumur ratusan tahun di dalam Sungai Lematang.

Uang logam berukuran sebesar uang logam Rp100 itu kondisinya masih utuh, meskipun ada bagian yang mengalami kerusakan akibat termakan usia dan faktor alam.

"Uang logam yang diperkirakan berbahan tembaga dan perak itu, bertulis aksara Belanda dan Arab, ditemukan warga saat menambang pasir di aliran Sungai Lematang Desa Payo, Kecamatan Merapi Barat," kata Sahrul (41), warga setempat.

Ia menyatakan, uang pecahan yang ditemukan di pinggir aliran Sungai Lematang itu merupakan pecahan 2,5 cent dan 0,5 gulden.

Tidak disangka, kata dia, ternyata uang yang ditemukan itu mengunakan bahasa Belanda dan Arab serta diperkirakan berusia ratusan tahun.

"Penemuan berawal saat salah seorang warga yang berprofesi sebagai pengumpul batu menemukan sekeping uang logam, kemudian pencarian dilanjutkan sehingga berhasil menemukan puluhan keping lainnya terkubur di antara batu-batu kali tersebut," ujar dia lagi.

Menurut dia, pada uang logam itu tertulis tahun pembuatan 1857, 1862, dan 1858. "Bahasa yang digunakan tulisan Arab, ada juga tulisan Belanda dengan berbahan tembaga, kalau yang besar warnanya kuning dan yang berukuran kecil terbuat dari perak," ujar Sahrul lagi.

Ada juga pada uang pecahan 0,5 gulden, bertuliskan Wilem III Koning, Derned G.H.V.L, Munt Van Het Koninkrijk der Nederlanden, dan bergambar seseorang menggunakan mahkota kerajaan.

"Sedangkan uang pecahan 2,5 cent, satu sisi mata uang bertulis huruf Arab, dan di sisi satunya bertuliskan Nederlandsch Indie," ujar dia lagi.

Camat Merapi Barat, Zulkarnain membenarkan, memang ada warga setempat yang menemukan uang logam yang diperkirakan peninggalan zaman penjajahan Belanda itu.

"Kami sudah melaporkan adanya warga yang menemukan tumpukan uang logam zaman Belanda, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut," ujar dia.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Kristantina mengungkapkan, mungkin saja di daerah tersebut pada zaman penjajahan Belanda dipakai sebagai jalur perdagangan, sehingga kapal-kapal dagang melalui Sungai Lematang membawa dagangannya.

"Diperkirana umur uang logam itu sekitar 250 tahun atau 2,5 abad. Pada masa itu sudah menggunakan mata uang tersebut dalam pertukaran dagang di daerah ini," ujar dia.

Hanya saja, kata dia, tidak diketahu pasti penyebab jatuh puluhan uang tersebut di sana. Mungkin saat itu kapal dagang tersebut tenggelam di sekitar situ atau uang logam tersebut karena sesuatu hal terbawa hanyut di Sungai Lematang.